Berhenti Sejenak Mencium Wangi Mawar

CERITA I

Cerita tentang nelayan adalah cerita klasik yang kebenarannya perlu kita renungkan. Suatu kali seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Ia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.

“Pak, mengapa Bapak tidak melaut ?”

“Saya sudah melaut semalam, dan saya perlu beristirahat.”

“Kalau Bapak melaut lagi, Bapak akan menghasilkan banyak ikan.”

“Lalu?”

“Bapak bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah perahu.”

“Lalu?”

“Dengan perahu itu, Bapak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan Bapak kepada pemilik perahu.”

“Lalu?”

“Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua.”

“Lalu?”

“Dengan dua perahu. Bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu kelima, dan seterusnya.”

“Lalu?”

“JIka perahu Bapak sudah banyak. Bapak bisa menyewakannya pada nelayan lain. Sehingga Bapak tidak perlu melaut lagi.”

“Lalu?”

“Bapak bisa hidup tenang dan bersantai.”

Nelayan itu tersenyum dan berkata.

“Menurut Bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?”

 

CERITA II

“Seorang Cendekiawan menumpang perahu disebuah danau. Ia bertanya pada tukang perahu,

“sobat, pernahkah anda mempelajari Matematika?”

“Tidak.”

“Sayang sekali, berarti Anda telah kehilangan seperempat dari kehidupan Anda, atau barang kali Anda pernah mempelajari ilmu filsafat?”

“itu juga tidak.”

“Dua kali sayang, berarti Anda telah kehilangan lagi seperempat dari kehidupan Anda. Bagaimana dengan sejarah?”

“juga tidak.”

“Artinya seperempat lagi kehidupan Anda telah hilang.”

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjadi badai. Danau yang tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi merekapun oleng. Cendekiawan itu pucat ketakutan. Dengan tenang tukang perahu itu bertanya,

“Apakah anda pernah belajar berenang?”

“Tidak.”

“Sayang sekali, berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan anda.”

 

CERITA III

Makin Tinggi Hati, Makin Sakit Bila Jatuh.

Kisah cendikiawan yang sombong itu mengingatkan saya pada cerita seorang teman saya, Dave Hagelberg. Suatu kali ketika kami sama-sama berdiri di sebuah pantai, pakar bahasa Yunani ini bercerita bahwa temannya pernah tenggelam di pantai.

Temannya itu seorang doctor di bidang geocoastal morphologist, yaitu sebuah cabang ilmu mengenai perpantaian yang sangat langka dimiliki ilmuwan lain. Ia berdiri di suatu tempat dan ditegur oleh nelayan.

“Tuan, jangan berdiri disitu! Tempat itu sangat berbahaya.”

Dengan tertawa ngakak. Doctor ahli pantai itu berkata.

“Di Dunia ini tidak banyak orang yang lebih mengerti seluk beluk perpantaian dibanding saya.”

Ucapannya itu adalah kata-katanya yang terakhir. Ombak menerjang di tempat ia berdiri, menyeretnya ke tengah laut, dan ia pun lenyap.

 

Nasihat pengusaha itu baik. Namun, apa yagn dilakukang nelayan itu justru mengajarkan kita satu hal. Hidup harus seimbang. Kita perlu, secara sengaja, berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas kita untuk menikmati segarnya rerumputan hijau, kicauan burung di udara, dna harumnya yang sedang mekar.

BERANI BERFIKIR BESAR : XAVIER QUENTIN PRANATA

This entry was published on March 29, 2012 at 5:55 am and is filed under Artikel Menarik. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Speak Your Mind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: