Sloka Gaib Madakaripura

Aku tahu saatnya akan tiba.

Waktu yang akan memberiku ruang pemulihan.

Aku mengerti saat luka itu kau bawa mati.

Nantikan.

Kan kutebus semua.

Dalam gegabah tanpa aku duga.

Kau lebur raga dalam bara.

Kukebas hidupku tanpamu.

Kulepas semua megah.

Harapku hanya dirimu.

Harap pada daya

Harap dalam setia.

Kau tak pernah mati.

Takkan terhalangi harap yang kuabadikan di cakrawala.

Kutandai di langi kaulah tresna-ku.

Waktu tak bisa melekangnya.

Zaman tak bisa menghapusnya.

Kisah dunia silakan berganti.

Tak menghapus rasaku padamu yang kupilih.

Kujelajahi ruang dan waktu. Kukitari tujuh jagad raya.

Kunanti saatnya kita bersama.

Rumangsaku wis tekan wektune nyambut tamu ati kang ilang kertaning bumi

(kan kurasa saat sudah tiba waktunya kusambut tamu hati yang telah hilang ditelan bumi).

Saatnya akan tiba.

Kutuai rasa dari benih tresna

Yang tertabur tanpa kau sengaja.

Mungkin kau tak pernah tahu benih itu berbunga sepanjang zaman.

Aku menjaganya di madakaripura.

Bunga abadi yang meratu dalam sukma yang mencari raga.

Aku ingin cinta ini takkan pernah terhenti.

Aku ingin rasa ini takkan pernah mati.

Ada harap dalam mantra setiaku tuk selalu bersama.

Ada daya dalam doa untukmu yang tak terganti.

Masih kutunggu saat aku denganmu dalam seribu harap dan waktu.

Walau langit telah berganti warna aku tahu kapan tiba saatnya.

Tresna-ku tresna-mu menjadi tresna kita.

Aku ingin membawamu kembali di tepi padang janji.

Mengusir angin padang yang terbangkan dirimu bagai bunga ilalang.

Tunggulah sejenak di gerbang ini tresna-ku.

Kubersihkan tanah yang masih berlumur angkara.

Kuusir kabut caci maki dari keheninganku.

Kusiapkan cawan pembebasan.

Untuk kita.

Kumiliki hatimu walau tak sempat kutahu isinya.

Sempat kudengar merdu kidungnya dari senyum perpisahan kita.

Kugenggam jiwamu dalam pelukku.

Walau tak sempat kau hangatkan batinku.

Sekilas kurasa sejuk hembusnya dari kelopakmu yang terpejam.

Kumiliki rasamu walau kelabu rautmu.

Terbaca semua makna yang kau titipkan dalam semu pipimu.

Sekejap. Sesaat.

Semua lebih dari cukup bagiku.

Kularungi samudra dengan layar senyummu.

Menggulung ombak dengan gemuruh rasaku padamu.

Kidungmu menghela badai samudraku.

Aku memang telah keliru.

Tinggalkan dirimu mengarungi dunia yang asing bagimu.

Di tanah yang bukan tanahmu.

Di tuan yang bukan tuanmu.

Di langit yang bukan payungmu.

Seharusnya kutahu saat membaca sorot matamu.

Ada harap kau menghilang dalam tresna kita.

Aku pun tak inginkan jiwa ini utuh sampai kita kembali.

Tak bisa kuberi kemasyhuran lagi tanpa dirimu yang menikmati.

Tak bisa kuberi kejayaan lagi tanpa kau di sisiku.

Kubawa kau dalam keretaku meski tak seindah yang kau punya.

Kan kau dapati ribuan kuning seruni menyemi.

Kau mawar mayapada-ku.

Lembar demi lembar kelopak merah dan kuning kutebar jadi alas kakimu.

Masih kudekap hiasan rambutmu.

Menunggu saat kusematkan di gelungmu.

Bawalah senyum serunimu.

Manis mawar jiwaku.

Kita tuai suka di langit senja nusantara.

Tak bisa kuberi kemasyhuran lagi tanpa dirimu yang menikmati.

Tak bisa kuberi kejayaan lagi tanpa kau di sisiku.

Dan aku tahu.

Ada daya tak terlihat bawa pemahaman tersirat pada putaran jagad.

Ada harapan tak tersurat terbaca di mayapada.

Pesannya hanya menunggu putaran waktu.

Kembali mematrikan apa yang seharusnya terjadi dalam surat jiwa yang berkelana mencari raga.

Ada mantra yang tak terganti sampai kembali apa yang seharusnya kembali.

Apa yang seharusnya utuh kembali utuh.

Apa yang satu kembali satu.

 

Sumber: Novel “Kembang Seruni”

This entry was published on March 30, 2012 at 6:16 am and is filed under Artikel Menarik. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Speak Your Mind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: