Sloka Gaib Parahyangan

Kuyakini akhir perjalanan ini berujung temu.

Di gerbang gapura ratus juntai harap terikat di putaran jagad.

Kulukir mayapada dengan mantra.

Kita akan ada.

Kujerat cakrawala dalam benggala.

Kita akan terlihat.

Kupahat langit isyaratkan kita kembali.

Kutebar rasa di alur Nusantara

Kita akan berkisah.

Di pematangnya kutebar kelopak kuning dan merah.

Bercerita seharusnya kita bersama.

Kuhembuskan serbuknya dari ujung padang dalam samadi.

Tandai udara dengan kisah sebenarnya.

Arumnya menyebar rasaku padamu.

Aku ingin kita bersama.

Benderang suara hatiku akan membimbingmu.

Temukan aku di tepi padang tresna kita.

Satu cahaya dalam gurat yang sama.

Aku menerimanya.

Kau rengkuh aku dalam hidupmu.

Aku pejamkan mata.

Dalam genggamanmu kau bawa aku arungi samudra.

Tak ada kata. Tak ada tanya. Kita mengikatnya.

Di ranah jiwa kita menjaganya.

Dalam daya hati kita berjanji.

Dengan sloka sukma mencari raga.

Kita akan bertemu lagi.

Dari getar batin kita akan saling mengenali.

Aku mendaras pesan kita nyata seharusnya.

Aku mengerti ada banyak untai kisah dari heningmu.

Ada banyak jerat sesah dari kebisuanmu.

Kau terhapus dari parahyangan tapi tidak dari kalbuku.

Kau menyeratku menjadi milikmu.

Ingin ku gulung lontarnya, dayamu terlalu perkasa.

Waktupun tak berani lapukkan kisah di lembarnya.

Kutelusuri apa yang sudah tersurat.

Meski telah pudar warnanya, namun masih tegas berkisah.

Aku tidak mampu menbacanya, tapi aku mampu mengingatnya.

Tali jagad ini mengikatmu padaku.

Tak udar sampai aku datang meski jagad samar mengingat.

Aku lintang segaramu. Aku guruh di telukmu.

Aku bayu layarmu. Aku sauh bahteramu.

Aku esem di suwung-mu.

Rapalmu mengundang aku di duniamu.

Mantraku membawamu datang kepadaku.

Rapal mantra kita buka lorong waktu.

Temukan raga dengan segala rasa yang melekat di untaiannya.

Tak ada yang bisa redakan gelora ini sampai kita bertemu lagi.

Kukenali dirimu.

Kau lihat kehadiranku.

Tak ada kata. Tak ada tanya.

Kita bersapa dalam tresna.

Ibu semesta akan berkisah pada mereka yang terpilih beraga kita.

Beri darma tresna dari lukisan hati yang abadi.

Jiwa yang murni mencinta akan menjadi kembang kata.

Pengembaraan batin yang merindu raga.

Sampailah di akhir dahaga.

Kita kan berenjana.

Ber-bungah hati di ujung pelangi Nusantara.

Utuh menuai rasa yang tak sempat kita semat.

 

Sumber: Novel “Kembang Seruni”

This entry was published on March 30, 2012 at 6:14 am and is filed under Artikel Menarik. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Speak Your Mind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: