Pendapatan Perkapita

INDIKATOR MONETER

  1. Pendapatan Perkapita

Pendapatan perkapita seringkali digunakan pula sebagai indicator pembangunan selain untuk pembedaan tingkat kemajuan ekonomi antara negara-negara maju dengan NSB. Dengan kata lain, pendapatan perkapita selain bisa memberikan gambaran tentang laju pertumbuhan kesejahteraan masyarakat diberbagai negara juga dapat menggambarkan perubahan corak perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat yang sudah terjadi di antara negara.

Namun demikian, kita harus hati-hati dalam menggunakan pendapatan perkapita itu sebagai suatu indicator pembangunan. Hal ini disebabkan oleh adanya pendapatan yang mengatakan pembangunan itu bukan hanya sekedar meningkatkan pendapatan riil saja, tetapi kenaikan tersebut harus berkeseimbangan dan mantap serta harus disertai pula oleh perubahan-perubahan sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang sebelumnya menghambat kemajuan-kemajuan ekonomi. Tetapi apapun kelemahan pendapatan perkapita sebagai indicator pembanguan, pendekatan ini masih sangat cocok untuk digunakan dan untuk dipahami, dan mungkin pendapatan perkapita adalah indicator pembangunan satu-satunya yang “terbaik” yang ada saat ini. Pendekatan ini juga mempunyai suatu kelebihan, dimana ia memfokuskan pada raisond’entri dari pembangunan, yaitu kenaikan tingkat hidup dan menghilangkan kemiskinan. Dengan kata lain, pendapatan perkapita bukanlah suatu proxy yang buruk dari struktur sosial ekonomi masyarakat.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendapatan perkapita masih tetap bisa digunakan sebagai suatu titik awal untuk pengklasifikasian tingkat-tingkat pembangunan, dan sudah tentu pula bisa digunakan untuk identifikasi kebutuhan pembangunan.

Kelemahan Umum Pendekatan Pendapatan Perkapita

Salah satu kelemahan penting dari tingkat pendapatan perkapita sebagai indicator pembangunan (indek kesejahteraan) adalah bersumber pada anggapan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh besarnya pendapatan perkapita masyarakat tersebut.

Sebenarnya, sudah lama orang meragukan kebenaran anggapatn tingkat pendapatan masyarakat merupakan pencerminan tingkat kesejahteraan yang dinikmati oleh suatu masyarakat. Namun demikian, masih tetap disadari bahwa tingkat pendapatan masyarakat merupakan salah satu faktor pentng yang menentukan tingkat kesejahteraan mereka, karena memang disamping itu ada beberapa faotkor lain yang seringkali merupakan faktor yang cukup penting juga dalam menentukan tingkat kesejahteraan.

Kalau kita perbandingkan kehidupan masyarakat antar negara, maka akan tampak faktor-faktor lain diluar tingkat pendapatan yang sangat berpengaruh kepada tingkat kesejahteraan merkea. Faktor-faktor non-ekonomi seperti : adat istiadat, keadaan iklim dan alam sekitar, dan ada/tidaknya kebebasan mengeluarkan pendapat dan bertindak merupakan beberapa contoh yang akan menimbulkan perbedaan tingkat kesejahteraan di negara-negara yang mempunyai pendapatan perkapita yang tidak banyak berbeda.

Sekedar gambaran, misalkan penduduk di daerah pegunungan mempunyai pendapatan yang sama dengan penduduk yang hidup didataran rendah. Berdasarkan pada perbedaan alamnya dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk didataran rendah adalah lebih tinggi. Kesimpulan tersebut berdasarkan pada kenyataan bahwa pada umumnya penduduk dataran rendah menghadapi tantangan alam yang lebih sedikit. Didataran rendah iklimnya tidak terlampau dingin, pekerjaan pertanian lebih mudah dilaksanakan, dan energy dikeluarkan untuk bergerak dari satu tempat ketempat lainnya relatif lebih sedikit.

Demikian halnya dengan ketiadaan kebebasan untuk bertindak dan mengeluarkan pendapat di negara-negara sosial/komunis misalnya keadaan tersebut menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya selalu dipandang lebih rendah dari yang dicerminkan oleh tingkat pertumbuhan ekonominya.

Selain kedua hal yang diungkapkan diatas ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kesejahteraan masyarakat itu merupakan suatu hal yang bersifat subjektif. Artinya, tiap mempunyai pandangan hidup, tujuan hidup dan carapcara hidup yang berbeda. Dengan demikian memberikan hal-hal yang berbeda pula terhadap faktor-faktor yang menentukan tingkat kesejahteraan mereka. Ada yang tinggi sebagai unsur penting untuk mencapai kepuasan hidup yang lebih tinggi. Dan ada pula sekelompok orang yang lebih suka untuk memperoleh waktu senggang (leisure time) yang lebih banyak dan enggan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

Disamping hal-hal yang dikemukakan di atas, perlu pula diingat bahwa pengembangan ekonomi akan merubah kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan masyarakat tradisional, seperti misalnya masyarakat menjadi bersifat lebih individualistis, hubungan antara anggota masyarakat menjadi lebih formal, dan sebagainya. Dengan demikian bertambah tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat biasanya diikuti pula dengan pengorbanan morildan usaha yang lebih banyak oleh masyarakat tersebut. Disatu pihak pembangunan ekonomi akan mempertinggi kesejahteraan masyarakat, tetapi dilain pihak tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi harus dicapai dengan beberapa pengorbanan dalam perilaku hidup masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Arthur Levis “… like everything else, economic growth has it’s costs” yang berarti bahwa pembangunan ekonomi disamping memberi manfaat kepada masyarakat juga membutuhkan pengorbanan-pengorbanan.

This entry was published on October 19, 2012 at 3:45 am. It’s filed under For Class and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Speak Your Mind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: