Pengertian Etika

Manusia yang hidup di dalam system kemasyarakatan terdiri atas aspek jasmaniah dan rohaniah. Aspek rohaniah manusia terdiri atas kodat alamiah, kodrat budaya, serta dunia nilai. Kodrat alamiah manusia terdiri atas:

  1. Cipta (pikiran, rasio),
  2. Karsa (kehendak, kemauan),
  3. Rasa (perasaan, emosi).

Cipta melalui logika akan menciptakan ilmu pengetahuan. Karsa  melalui etika menciptakan religi, akhlak, sopan santun, dan hukum. Rasa melalui estetika menciptakan kesenian. Hal-hal yang diciptakan itu merupakan kodrat budaya, sedangkan dunia nlai yang masing-masung dihasilkanya adalah:

  1. Kebenaran,
  2. Keserasian,
  3. Keindahan.

Kesemuanya itu dibawa manusia ke dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mencakup system kemasyarakatan serta subsistem yang menjadi bagiannya.

Berdasarkan pernyataan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa etika yang menghasilkan religi dan akhlak lebih tertuju kepada kesempurnaan diri manusia pribadi. Yang menghasilkan sopan santun dan hukum tertuju kepada kehidupan antar pribadi (interaksi). Etika dalam proses selanjutnya, yang semula merupakan etika kemasyarakatan, sesuai dengan subsistem yang ada, dapat mengkhususkan diri pada masing-masing subsistem. Dengan demikian, mungkin ada etika politik, etika social, etika budaya, etika kesehatan, dan seterusnya.

Titik sentral etika adalah penilaian terhadap hal-hal yang disetujui dan yang tidak disetujui. Daya cakup titik sentral itu adalah antara lain;

  1. Apa yang benar dan apa yang salah,
  2. Apa yang merupakan kebaikan dan apa yang merupakan keburukan,
  3. Apa yang merupakan kebajikan dan apa yang merupakan kejahatan,
  4. Apa yang dihendaki dan apa yang ditolak.

Pada dasarnya etika atau etiket merupakan pedoman tata krama, aturan-aturan penggunaan tata tertib yang dilaksanakan dalam pergaulan oleh manusia untuk manusia mengatur manusia dalam segala tindak dan gerak. Tata cara hubungan antara manusia yang saling membutuhkan.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa etika paling sedikit mempunyai arah-arah sebagi berikut:

  1. Analisis psikologis atau sosiologis untuk menjelaskan perihal tolak ukur penilaian yang dipergunakan.
  2. Rekomendasi sikap tindak atau tingkah laku.

Oleh karena itu, dari etika berkembanglah aksiologi (apa yang benar atau yang salah menurut nilai tetentu) dan deontology (yakni ilmu mengenai apa yang seharusnya). Kedua hal itu tidak perlu berjalan secara terpisah sehingga dapat saja digabung.

This entry was published on October 19, 2012 at 4:39 am. It’s filed under For Class and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Speak Your Mind

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: